Memberi, bukan Menerima

ImageSaya sudah mempunyai buku Tetralogi novel Laskar Pelangi dkk (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor), walaupun belum semua selesai dibaca. Laskar Pelangi juga sudah difilmkan (waktu melihat ke cinema21 antri tiketnya lumayan juga, so belum jadi nonton).

Salut dan bangga kepada orang-orang seperti Andrea Hirata atau tokoh pendidikan yang ada di novel Laskar Pelangi.

Hormat saya pada MiraLesmana, Riri Riza, Andrea Hirata, dan siapapun yang terlibat dalam film Laskar Pelangi. Secara gamblang mereka menorehkan realitas keseharian kita. Terbelah dalam kelas sosial, terbelenggu oleh peraturan formal, terpinggirkan dan terasing. Kondisi patologis itu terpantul bening dalam ranah pendidikan.

Tapi Tuhan memang tidak tidur (Gusti ora sare – bhs Jawa). Di tengah tekanan hidup yang kadang tidak kenal kompromi tersebut, lahir ketulusan, semangat, dan mimpi. Pendeknya, lahir sifat kenabian dari individu-individu otonom yang dalam bahasa Kahlil Gibran disebut sebagai kaum pemberi, bukan penerima.

Mereka ibarat bunga bakung dan matahari, selalu meneduhi dan memberi energi.

Seperti itulah sejatinya politikharus dijalankan. Tapi, acap kali ia direduksi menjadi sekadar perebutan kekuasaan. Akibatnya,bukan kesejahteraan rakyat yang dipanggul, tetapi ambisi pribadi untuk menguasai dan menikmati kebun mawar kekuasaan. (diambil dari tulisan SUKARDI RINAKIT)

sesungguhnya harta kita yang sebenarnya adalah apa yang kita berikan, apa yang kita berikan akan kembali kepada diri kita juga, kalau yang diberikan kebaikan, kebaikan pula yang kita dapat sebaliknya kalau yang diberikan keburukan, keburukan juga yang kita dapat.

0 Responses to Memberi, bukan Menerima

  1. ikrarestart says:

    tapi kasihan juga si LINTANG padahal jenius ya

Leave a Reply